Tampilkan postingan dengan label Rahmat Prihartono (0814). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rahmat Prihartono (0814). Tampilkan semua postingan

Senin, 11 Januari 2010

Perbedaan Standar Televisi PAL dengan NTSC

Ada beberapa standar televisi yang digunakan oleh beberapa Negara-negara didunia, tetapi standar televisi yang dibuat disini adalah standar televisi PAL sesuai dengan standar televisi yang digunakan oleh Indonesia. Berikut ini adalah aturan parameter-parameter yang harus diketahui dalam perealisasian pemancar televisi PAL sebagai berikut :









Untuk membedakan antara PAL dengan standar televisi NTSC adalah dari penggunaan baris di layar televisi. Untuk PAL memiliki 625line/50Hz, karena frekuensi PLN di Negara-negara Eropa yang digunakan adalah 50Hz, sedangkan NTSC adalah standar televisi yang dipakai di Amerika yaitu menggunakan 525line/60Hz, karena frekuensi PLN yang dipakai di Amerika adalah 60Hz. Dari segi kecepatan frame per detik, PAL menggunakan kecepatan 30 fps, sedangkan untuk NTSC menggunakan kecepatan 25 fps. Indonesia menggunakan PLN yang sama dengan Eropa sehingga dalam perkembangannya televisi yang digunakan mengikuti standar Eropa yaitu PAL. Dari segi kecepatan frame PAL lebih unggul dibandingkan dengan sistem NTSC. Berikut ini adalah bandwidth yang dipakai oleh standar televisi PAL untuk penempatan gambar, suara, chroma, besarnya luminansi sistem PAL.







Sedangkan untuk NTSC lebar bandwidth yang dipakai adalah sebagai berikut :








Gambar 2.6 Bandwidth standar NTSC ; P (pembawa gambar) ; S (pembawa suara) ; c (chroma)



Dari segi bandwidth terlihat bahwa PAL lebih lebar dari standar NTSC, hal inilah yang membedakan antara PAL dengan NTSC. Selanjutnya modulasi kroma PAL dan NTSC memiliki kesamaan yaitu menggunakan modulasi Amplitudo (AM), modulasi video-nya sama antara PAL dengan NTSC yaitu modulasi negatif.



Modulasi Negatif



Kesamaan modulasi video yang digunakan oleh PAL dan NTSC yaitu modulasi negatif. Modulasi negatif adalah modulasi yang dihasilkan dengan polaritas negatif, polaritas negatif terbentuk dari taraf terang atau yang disebut puncak putih dalam sinyal video yang menghasilkan sinyal gambar AM paling rendah. Keuntungannya menggunakan modulasi negatif yaitu derau yang dihasilkan oleh pembawa RF akan memperbesar taraf hitam dan putih pada amplitudo gambar, sehingga mempengaruhi daya pancar televisi. Disamping itu keuntungan menggunakan modulasi negatif yaitu dapat menggunakan daya rendah untuk mentransmisikan televisi PAL maupun NTSC. Dalam sinyal video komposit yang digunakan sebagai sinyal modulasi, biasanya amplitudo relatif ditunjukkan dalam skala IRE. Seperti diperlihatkan pada analisis sinyal video, sinyal video komposit bervariasi dari -40 unit IRE pada ujung penyelarasan sampai level pengosongan +100 unit IRE untuk puncak putih. Amplitudo-amplitudo yang bersesuaian adalah 100 % level pembawa untuk penyelarasan ujung. 75 % untuk level pengosongan dan 12,5 % untuk puncak putih. Rincian lebih lanjut dari perbandingan ini diberikan pada tabel 2.2. artinya 40 unit IRE dari penyelarasan bersesuaian dengan puncak 25 % dari amplitudo pembawa. Ke-10 unit IRE untuk setiap hitam bersesuaian dengan 7,5 % sinyal pembawa. Level IRE dari 100 menjadi 12,5 % dari amplitudo pembawa pada puncak putih. Sebenarnya 20 lagi unit IRE sampai 120 bersesuaian dengan 12,5 % amplitudo pembawa yang tidak digunakan untuk modulasi. Persentase sinyal pembawa ini dihitung 0,125 atau 12,5 %.
















JENIS – JENIS PAL



Standar televisi PAL memiliki beberapa jenis yang dipakai diseluruh dunia. Berikut ini adalah tabel mengenai spesifikasi dan jenis standar televisi PAL.








PAL B/G/D/K/I



Standar televisi PAL pada umumnya menggunakan 625 garis dan 25 fps. Negara yang menggunakan PAL B/G hampir Eropa Barat, untuk PAL I digunakan di negara inggris, Irlandia, Hongkong dll. Untuk PAL D/K digunakan di negara-negara Eropa selatan, dan untuk standar PAL D khusus dipakai oleh China. PAL B/GT/D/K/I untuk informasi suaranya menggunakan modulasi frekuensi dan untuk modulasi videonya ditransmisikan menggunakan modulasi negatif AM. Negara Indonesia menggunakan standar PALB, dengan ketentuan seperti tabel diatas. Perealisasian perangkat dalam buku ini menggunakan sistem PALN, perbedaannya terletak di bandwidth yang digunakan. Untuk PAL-B mengalokasikannya dengan lebar bandwidth 7 MHz, sedangkan untuk PAL-N menggunakan alokasi bandwidth 6 MHz.





PAL M (Standar televisi Brazil)



PAL yang digunakan di negara Brazil menggunakan 525 garis dan 29.97 fps. Hampir semua negara yang menggunakan PAL M sama halnya menggunakan NTSC. Dan kebanyakan negara – negara yang menggunakan PAL M cenderung menggunakan NTSC karena kalau dilihat dari PAL M dengan NTSC sama. PAL M untuk informasi suaranya menggunakan modulasi frekuensi dan untuk modulasi videonya ditransmisikan menggunakan modulasi negatif AM.



PAL Nc (Standar televisi Argentina)



PAL Nc (PAL combinasi N), untuk negara Argentina menggunakan 625 garis per 50 Hertz. PAL Nc untuk informasi suaranya menggunakan modulasi frekuensi dan untuk modulasi videonya ditransmisikan menggunakan modulasi negatif AM.



PAL N (Standar televisi Uruguay)



PAL N (PAL combinasi N), untuk negara Uruguay menggunakan 625 garis per 50 Hertz. Di negara Uruguay biasanya menggunakan juga PAL DVD yaitu televise dengan menggunakan DVD langsung dalam siaranya. PAL N untuk informasi suaranya menggunakan modulasi frekuensi dan untuk modulasi videonya ditransmisikan menggunakan modulasi negatif AM.



PAL L (Standar televisi SECAM)



PAL L untuk informasi suaranya menggunakan modulasi frekuensi dan untuk modulasi videonya ditransmisikan menggunakan modulasi positif AM. Penggunaan PAL L sama halnya dengan menggunakan standar televisi SECAM yaitu menggunakan 625 garis/50Hertz dan menggunakan 15.625 kHz kecepatan garisnya. Penggunaan televisi PAL L ini tidak untuk televisi nasional tetapi digunakan untu televisi jaringan dihotelhotel.





Perbedaan Standar Televisi PAL dengan SECAM



Perbedaan yang terlihat jelas antara SECAM dengan PAL yaitu di bandwidth, untuk secam biasanya menggunakan alokasi bandwidth 8 MHz, sedangkan untuk PAL menggunakan 7 MHz. dari segi modulasi kroma PAL menggunakan modulasi amplitudo sedangkan SECAM menggunakan modulasi frekuensi. Dilihat dari modulasi gambar PAL menggunakan modulasi negatif, sedangkan SECAM menggunakan modulasi positif.

Direct Sequence Code Division Multiple Access (DS-CDMA)

Code Division Multiple Access (CDMA) merupakan suatu teknik multiple access yang mengijinkan banyak user mentransmisikan informasi dalam bandwidth yang sama secara terus-menerus. Setiap user diberikan suatu pseudorandom code yang saling orthogonal untuk meminimalisasi multiple access interference (MAI). Hanya receiver tujuan yang memiliki replika kode yang sama dengan yang dikirimkan oleh transmitter dan menggunakannya untuk mendapatkan informasi yang dikirimkan.



Dalam sistem Direct Sequence CDMA (DS-CDMA), bandwidth dari sinyal informasi dilebarkan dengan mengalikan sinyal dengan pseudo-random atau dalam sistem spread spectrum (Gambar 2.1) dikenal dengan sebutan pseudonoise (PN), yang memiliki bandwidth jauh lebih lebar dari pada sinyal informasi. Dalam DS-CDMA, setiap user memiliki PN sequence yang dibangkitkan secara unik dan orthogonal atau bisa dikatakan memilki cross-corelation yang tepat, sehingga penerima dapat membedakan setiap sinyal dari user yang berbeda. Dengan begitu, berbagai user dapat memancarkan secara serentak dengan menggunakan bandwidth yang sama . Saat melewati kanal radio, terdapat banyak pantulan dan hamburan sinyal yang disebabkan oleh objek yang terdapat pada lingkungan propagasi. Efek dari kanal ini disebut dispersive multipath propagation, dimana efek tersebut dapat menyebabkan hancurnya orthogonalitas diantara kode penebar sehingga nilai cross-corelation antara user meningkat dan mengakibatkan munculnya intersymbol interference (ISI) yang menyebabkan menurunnya performansi sistem.

Sistem Pengenalan Kata dengan Menggunakan Linear Predictive Coding dan Nearest Neighbor Classifier

Sistem Pengenalan Kata dengan Menggunakan Linear Predictive Coding
dan Nearest Neighbor Classifier


Dengan adanya kemajuan teknologi yang begitu pesat, saat ini untuk menjalankan suatu aplikasi cukup dengan mengucapkan sebuah kata saja contohnya seperti pada aplikasi voice dialing. Sebenarnya hal ini dapat dilakukan dengan sebuah komputer. Namun untuk membeli sebuah komputer adalah suatu hal yang tidak praktis, ukurannya relatif besar dan mahal harganya. Karena itu dalam makalah ini dipaparkan pengembangan suatu sistem pengenalan kata dengan menggunakan sebuah mikroprosesor dengan harga yang lebih murah dan ukuran relatif kecil.
Metode yang digunakan dalam sistem ini adalah metode linear predictive coding (LPC) dan nearest neighbor classifier. LPC digunakan untuk meng¬ekstrak pola kata dari suara yang di-input-kan. Sedangkan metode nearest neighbor classifier digunakan untuk mengenali kata yang di-input-kan. Sistem yang telah didisain diimplementasikan pada mikroprosesor TMS320C5x yang merupakan proses khusus untuk pemrosesan sinyal digital.
Selanjutnya pada bagian kedua makalah ini akan menjelaskan tentang sistem yang telah didisain mulai dari perangkat keras, perangkat lunak dan sistem secara umum. Bagian ketiga dari makalah ini akan menjelaskan hasil pengujian yang telah dilakukan untuk sistem yang telah dibuat. Dan makalah ini akan ditutup dengan diskusi dan kesimpulan yang telah diambil berdasarkan hasil pengujian yang telah dilakukan.
Sistem Pengenalan Kata
Pada dasarnya konsep perencanaan sistem pengenalan kata dapat dilihat pada blok diagram perangkat keras yang ditunjukkan oleh gambar 1 dan blok diagram sistem pengenalan kata yang ditunjuk¬kan oleh gambar 2.
Secara garis besar, cara kerja perangkat keras adalah input suara manusia yang masuk akan diterima oleh mikrofon dengan tujuan untuk mengubah sinyal suara menjadi sinyal listrik. Karena sinyal output dari mikrofon sangat lemah, maka diperlukan sebuah rangkaian yang berfungsi untuk memperkuat sinyal dari mikrofon tersebut. Rangkaian tersebut disebut sebagai rangkaian penguat depan.
kali dari frekuensi sinyal yang akan di-sampling. Lama waktu sampling data adalah setengah detik dengan demikian dalam satu kali sampling akan diperoleh 4000 data. Kemudian data ini akan diproses dengan analisa LPC sehingga menghasilkan koefisien-koefisien cepstral yang menjadi parameter untuk dikenali. Metode yang digunakan untuk pengenalan kata adalah metode nearest neighbor classifier.






Linear Predictive Coding (LPC)
Ide dasar dari LPC adalah bahwa sebuah sinyal suara manusia pada waktu n, s(n), dapat diperkirakan sebagai kombinasi linier dari p sinyal suara manusia sebelumnya. Hal ini direpresentasikan dengan meng¬gunakan persamaan berikut[1]:
snasnasnasnp ()1.(1)2.(2)....()
≈ −+−++ p −(1)
dimana koefisien-koefisien a1, a2, ..., ap merupakan asumsi konstanta dari sebuah bagian dari analisa suara manusia. Persamaan 1 dapat diubah dengan menambahkan sebuah eksitasi G.u(n) sehingga menjadi:

Penguat Depan TMS320C5x DSP Starter Kit
Mikrofon Output p
sna i sniGun
() .().()
=−+
∑ (2)
i=1



Kemudian sinyal dari mikrofon yang telah diperkuat oleh rangkaian pre-amplifier akan di-sampling oleh analog to digital converter (ADC) yang berfungsi mengubah sinyal listrik analog menjadi sinyal digital. Rangkaian ADC ini sudah terdapat di dalam TMS320C5x DSP starter kit. Sinyal digital dari ADC ini akan diolah untuk dikenali dan kemudian hasilnya ditampilkan di LCD.

Sinyal analog dari mikrofon di-sampling dengan frekuensi 8000 Hz. Pemilihan frekuensi sampling sebesar 8000 Hz karena frekuensi terbesar dari sinyal yang akan di-sampling adalah 3400 Hz sesuai dengan frekuensi suara manusia sekitar 600 – 3400 Hz. Hal ini dikarenakan adanya syarat bahwa frekuensi sampling minimal dua
dimana u(n) adalah eksitasi yang dinormalisasi dan G adalah penguatan dari eksitasi tersebut.

Perancangan Kapasitor Jalan untuk Mengoperasikan Motor Induksi 3-Fasa pada Sistem Tenaga 1-Fasa

Metode pengoperasian motor induksi 3-fasa pada sistem tenaga listrik 1-fasa dengan menggunakan kapasitor telah berkembang dengan baik. Metode ini digunakan karena mempunyai respon kecepatan yang cepat pada motor, arus start yang kecil dan perbaikan faktor daya hingga mendekati satu. Karakteristik motor saat beroperasi tergantung dari letak dan nilai kapasitor jalan yang digunakan pada motor. Peneitian ini dimaksudkan untuk membuatkan metode baru dalam meletakkan dan memilih kapasitor jalan untuk mengoperasikan motor induksi 3-fasa pada sistem tenaga listrik 1-fasa. Data motor yang digunakan adalah motor induksi 3-fasa 1,5 kW; 220/380V; ∆/Y; 50 Hz; 6,2/3,6A; 1400 rpm; kelas B; faktor daya 0.84 tertinggal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motor bekerja lebih baik dan lebih efisien jika kapasitor jalan diletakkan pada sisi kumparan dengan impedansi yang lebih besar. Motor dapat bekerja dengan menggunakan kapasitor 25,9 ยต F pada beban 95,14%, kecepatan 1400 rpm, faktor daya 0,99 mendahului, dengan distorsi harmonik arus yang lebih
rendah.
Pengoperasian motor induksi 3-fasa pada sistem tenaga listrik AC 1-fasa sangat dibutuhkan pada daerah pertanian, industri kecil dan daerah tertentu yang hanya mempunyai sistem tenaga listrik 1-fasa, sedangkan mereka membutuhkan motor penggerak dengan daya yang besar (motor induksi 3-fasa) yang secara normal harus dioperasikan pada sistem tenaga listrik 3-fasa [1,2]. Salah satu cara agar motor induksi 3-fasa dapat digunakan dengan baik pada kondisi ini adalah dengan mengoperasikan motor induksi 3-fasa pada sistem tenaga listrik 1-fasa dengan meng¬gunakan kapasitor [1,3].
Dalam sistem pengoperasian motor induksi 1-fasa, kapasitor boleh diletakkan pada sisi kumparan bantu (impedansi lebih besar) atau pada sisi kumparan utama (impedansi lebih) asal kapasitor yang digunakan dapat menggerakkan motor [4]. Berdasar¬kan kondisi ini, maka penelitian ini dimaksudkan untuk merancang metode baru dalam meng¬operasikan motor induksi 3-fasa pada sistem tenaga 1-fasa dengan cara menempatkan kapasitor pada sisi kumparan dengan impedansi yang lebih besar (kumparan bantu).
Secara umum, untuk mengoperasian motor induksi 3-fase pada sistem tenaga 1-fase dengan meng-gunakan kapasitor dapat dilakukan dengan cara mengubah bentuk rangkaian kumparan motor induksi 3-fase menjadi seperti rangkaian motor induksi 1-fase jenis motor kapasitor.

Pengujian Penggunaan Simple Object Access Protocol (SOAP) pada Remote Procedure Call (RPC)

Pengolahan terdistribusi antar Web dikenal dengan nama Web services. Web services berupa suatu objek di Web yang diakses dengan HTTP, menerima masukan dalam bentuk XML dan memberikan keluaran dalam bentuk XML. Web services dapat diakses oleh suatu Web atau oleh aplikasi yang mampu mengirim request dan menerima response melalui HTTP. Web services menggunakan konsep RPC (remote procedure call) dengan format data yang dikirim adalah XML. Format data XML yang dipertukarkan antara web services dengan Web atau aplikasi pengaksesnya adalah SOAP (Simple Object Access Protocol).
Pada penelitian ini dilakukan :
• Perbandingan penggunaan aplikasi RPC dengan teknologi DCOM (Distributed Component Object Model)
• Menemukan kelebihan serta kekurangan dari SOAP.
• Pembuatan aplikasi dengan menitikberatkan pada penggunaan SOAP di aplikasi RPC (Remote Procedure Call)

Bentuk RPC disini berupa COM (Component Object Model), dimana COM tersebut merupakan versi Object-Oriented dari DCE RPC(Distributed Com¬puting Environtment Remote Procedure Call).
Aplikasi pertama yang dibuat adalah mengenai pemesanan barang elektronik. Client menginputkan data pesanannya kemudian data tersebut akan dikirimkan ke Sales server dan Manufacturing server. Kemudian, client akan menerima konfirmasi bahwa data telah diterima pada kedua server tersebut. Aplikasi kedua adalah perbandingan program kalkulasi dengan menggunakan DCOM dan SOAP¬WSDL.
Teori
Remote Procedure Call (RPC) [4]
Remote procedure call bertindak seperti pemang¬gilan pada prosedur biasa, tetapi bekerja melewati jaringan. Soket/penghubung penggunaan metode (method) pada jaringan adalah sistem pesan, dimana suatu proses menulis pesan kepada yang lain. Suatu proses menjalankan remote procedure call dengan memasukkan parameternya dan alamat pemanggil (return address) pada stack, dan mulai menjalankan awal prosedur. Prosedur tersebut bertanggung jawab pada pengaksesan dan penggunaan jaringan. Setelah eksekusi, prosedur akan kembali ke alamat pemanggil. Proses pemanggil akan dilanjutkan.
Ketika proses pemanggil (calling process) me¬manggil sebuah prosedur, aksi yang dikerjakan oleh prosedur tersebut tidak sama dengan kode yang ditulis, tetapi kode yang memulai komunikasi jaringan. Proses pemanggil (calling process) harus menyambung pada mesin yang dituju, mengirim semua parameternya, dan menunggu balasan, mengerjakan sesuatu pada stack dan hasil. Inilah yang terjadi pada client side stub. Sedangkan pada server side stub harus menunggu pesan untuk menjalankan suatu prosedur. server side stub harus membaca parameter, dan mengubahnya ke bentuk yang cocok untuk mengeksekusi suatu prosedur. Setelah eksekusi, server side stub harus mengirim hasilnya ke proses pemanggil. Lihat Gambar 1.


SOAP adalah protokol yang berisi sekumpulan aturan yang mengatur komunikasi antar komputer. Ide dasarnya adalah dua aplikasi, dengan tidak memperdulikan operating system, bahasa pemro¬graman, atau detil implementasi teknis yang lain, dapat menggunakan informasi secara bersama-sama dengan menggunakan pesan yang dikodekan dalam suatu cara dimana kedua aplikasi tersebut dapat mengerti. Pesan tersebut berupa data XML. Disini, SOAP berperan menyediakan standar cara untuk menyusun pesan XML tersebut. SOAP adalah XML, dengan kata lain, SOAP adalah aplikasi dari spesifikasi XML, dapat menggunakan standard XML seperti XML Schema dan XML Namespaces untuk pendefinisian dan fungsi/penggunaan.
Secara konseptual SOAP dapat dianggap sebagai DCOM versi XML. SOAP merupakan mekanisme lain yang memungkinkan penggunaan remote procedure call. SOAP bersifat netral platform, netral bahasa dan tidak bergantung pada suatu objek model. Sehingga SOAP-enabled distributed application dapat menjangkau beragam operating sistem, dimana terdiri dari objek yang berasal dari vendor yang berbeda, ditulis pada bahasa yang berbeda, dan didasarkan pada objek model yang berbeda.
SOAP Messages
Pesan SOAP berbentuk seperti sebuah envelope yang berisi header (optional) dan body (required), seperti ditunjukkan pada Gambar 2. Header berisi blok informasi yang berhubungan dengan bagaimana pesan tersebut diproses. Hal ini meliputi pe-routing¬an dan delivery setting, authentication atau authorization assertions, and transaction contexts. Body berisi pesan sebenarnya yang dikirim dan diproses. Semua yang dapat ditampilkan dengan sintaks XML dapat dimasukkan dalam pesan body.

Setiap elemen Envelope harus berisi tepat satu elemen Body. Elemen Body dapat berisi sebanyak mungkin child nodes yang diperlukan. Isi dari elemen Body adalah pesan. Elemen Body ditentukan dalam suatu cara dimana dapat berisi valid dan well-formed XML yang telah dibatasi oleh suatu namespace (qualified).
Jika sebuah Envelope berisi elemen Header, harus berisi tidak lebih dari satu, dan harus tampak pada first child dari Envelope, sebelum elemen Body. Header dapat berisi valid, well-formed, dan dibatasi dengan namespace XML dimana hendak dimasukkan oleh pencipta pesan SOAP.
Setiap elemen yang berada dalam Header disebut blok header. Tujuan dari blok header adalah untuk memberitahukan infomasi yang berhubungan dengan pemrosesan pesan SOAP.

Pengembangan Learning Content Management System yang Mendukung Peningkatan Efektifitas Proses Belajar Jarak Jauh

E-learning merupakan usaha untuk membuat transformasi proses belajar-mengajar yang ada di sekolah ke dalam bentuk digital yang dijembatani oleh teknologi Internet [1, 6]. E-learning dapat didefinisikan sebagai sebuah bentuk teknologi informasi yang diterapkan di bidang pendidikan dalam bentuk kelas maya. Artinya siswa dan pengajar tidak harus bertatap muka secara langsung untuk melakukan kegiatan belajar-mengajar seperti layaknya di dalam kelas, melainkan mereka berinteraksi secara tidak langsung melalui komputer mereka masing-masing yang terhubung dengan Internet. Oleh karena itu, kelas maya memungkinkan seseorang untuk belajar tanpa bergantung pada tempat dan waktu serta memungkinkan seseorang untuk mendapatkan pembelajaran seumur hidup [3]. Akan tetapi penyampaian materi pembelajaran yang baik pada sistem E-learning bukan hal yang mudah untuk dilakukan, di samping adanya keterbatasan akses internet di Indonesia.
Sebuah pendekatan untuk mengembangkan e-learning adalah menggunakan teori games. Teori ini dikemukakan berdasar pengamatan terhadap perilaku
para penggemar games komputer. Selama bermain games, para pemain akan dibuat hanyut dengan karakter yang dimainkannya sehingga mampu duduk berjam-jam untuk memainkan permainan tersebut dengan senang hati. Fenomena ini menarik bagi para peneliti bidang pendidikan dalam menyusun sebuah sistem pendidikan yang efektif.
Dengan membuat e-learning yang mampu meng¬hanyutkan para peserta untuk mengikuti setiap langkah belajar, seperti layaknya ketika bermain sebuah games, diharapkan muncul sumbangan positif bagi proses belajar siswa itu sendiri. Dengan menyisipkan permainan-permainan dalam sebuah pelajaran, proses belajar akan menjadi lebih menye¬nangkan tanpa harus kehilangan makna dan tujuan yang ingin dicapai dari proses belajar itu sendiri. Hal ini merupakan modal awal yang sangat baik untuk proses belajar selanjutnya. Tanpa modal yang muncul dari pihak peserta sendiri, segala usaha pendekatan dari pihak pengajar menjadi mustahil dapat dijalankan dengan sebaik-baiknya.
Oleh karena itu, dalam perancangan sistem e-learning ada beberapa syarat yang wajib dipenuhi yaitu sederhana, personal, dan cepat. Sistem yang sederhana akan memudahkan peserta dalam meman¬faatkan teknologi yang ada. Adanya kemudahan pada panel yang disediakan, akan mengurangi waktu perkenalan terhadap sistem e-learning itu sendiri sehingga waktu belajar peserta dapat diefisienkan untuk proses belajar dan bukan pada belajar peng¬gunaan sistem e-learning-nya. Dengan merancang sistem e-learning yang bersifat personal, pengajar dapat berinteraksi dengan baik seperti layaknya seorang pengajar yang berkomunikasi dengan siswa¬nya di depan kelas. Dengan pendekatan dan interaksi yang lebih personal, siswa diperhatikan kemajuan¬nya serta dibantu segala persoalan yang dihadapinya dalam pelajarannya. Diharapkan hal ini akan membuat betah para peserta yang ada.






Learning Technology Systems Architecture
LTSA merupakan hasil penelitian yang dilakukan oleh divisi edutool dari Farance Incorporation yang dikembangkan berdasarkan IEEE 1484. LTSA adalah arsitektur yang menggambarkan rancangan sistem level tinggi beserta komponen-komponennya. LTSA mencakup sistem yang sangat luas yang umumnya dikenal sebagai learning technology, education and training technology, computer-based training, computer assisted instruction, intelligent tutoring, metadata, dan sebagainya. Arsitektur ini bersifat netral terhadap aspek pedagogi, isi, budaya, dan platform dari suatu sistem pengajaran.
LTSA terdiri dari lima lapis arsitektur yang dapat dilihat pada gambar 1. Setiap layer menggambarkan sebuah sistem pada level yang berbeda. Layer yang lebih tinggi memiliki prioritas yang lebih besar dan berpengaruh dalam analisis dan perancangan sistem. Dengan kata lain, layer yang lebih tinggi merupakan abstraksi dari layer yang di bawahnya, sedangkan layer yang lebih rendah merupakan implementasi dari layer yang di atasnya.
Kelima lapisan tersebut dari tertinggi hingga terendah adalah:
Lapis 1: Learner and Environment Interactions Lapisan ini berfokus pada akuisisi, transfer, pertukaran, formulasi, dan penemuan dari siswa terhadap pengetahuan dan/atau infor¬masi melalui interaksi dengan lingkungan¬nya.
Lapis 2: Learner-Related Design Features
Lapisan ini berfokus pada pengaruh atau efek yang dimiliki siswa pada perancangan dari sistem pembelajaran.
Lapis 3: System Components
Lapisan ini mendeskripsikan komponen dasar arsitektur yang diidentifikasi pada lapis ke-2.
Lapis 4: Implementation Perspectives and Priorities Lapisan ini mendeskripsikan sistem pem¬belajaran dari berbagai perspektif dengan mengacu pada lapis ke-3. LTSA telah memformulasikan lebih dari 120 stake¬holder perspective. Setiap stakeholder memiliki perspektif yang berbeda terhadap sistem pembelajaran.
Lapis 5: Operational Components and Interopera¬bility
Lapisan ini mendeskripsikan komponen dan antarmuka yang bersifat generik dari arsitektur pembelajaran berbasis teknologi informasi seperti yang diidentifikasi pada lapis ke-4. Dengan mengetahui standar interoperabilitas (codings, APIs, protocols) yang digunakan maka dapat ditingkatkan pemahaman terhadap sistem dan dapat diketahui interoperabilitas potensialnya.
Sedangkan komponen-komponen sistem LTSA, seperti nampak pada gambar 2, terdiri dari:
Proses, yang meliputi entitas siswa, evaluasi, pelatih, dan pengiriman. Proses dideskripsikan dengan batasan, input, proses (fungsionalitas), dan output.
Penyimpanan data, yang meliputi rapor siswa dan sumber daya pembelajaran. Penyimpanan data dideskripsikan dengan tipe dari informasi yang disimpan dan dengan metode search, retrieval, dan update.
Aliran data, yang meliputi perilaku, penilaian, informasi siswa, query, info katalog, lokator, materi pembelajaran, multimedia, konteks interaksi, dan preferensi pembelajaran. Aliran data dideskripsikan dengan konektivitas (one-way, two-way, static connections, dynamic connections, dan sebagainya) dan tipe informasi yang dialirkan.

Traffic Light Controller Menggunakan Media RF

Perkembangan teknologi control bertujuan mem¬permudah manusia dalam melakukan aktifitasnya. Perkembangan tersebut merambah seluruh aspek kehidupan manusia. Pada penelitian ini akan disajikan pengontrolan sebuah plant traffic light nirkabel yang memanfaatkan HT sebagai media pengiriman command.
Pemilihan media radio communication sebagai media transmisi dikarenakan beberapa sebab antara lain: jarak antara plant dengan remote, perkem¬bangan teknologi radio komunikasi yang semakin murah.
Berdasarkan hasil survey yang telah dilakukan di kota Surabaya pada bulan Agustus 2004, teknologi pengontrolan traffic light menggunakan dua metoda yaitu metoda jaringan yang memanfaatkan kabel dan metoda standalone. Kedua metoda tersebut masih dirasakan kurang efektif penggunaannya dalam mengontrol traffic light. Penggunaan kabel sebagai media jaringan sangat rumit dan memiliki tingkat kesulitan cukup tinggi dalam hal perawatan. Apabila menggunakan metoda standalone dirasakan cukup susah untuk melakukan perubahan setting yang dibutuhkan.
Penggunaan media Radio frekuensi hanyalah sebagai sarana pengiriman command untuk mengganti setting durasi, mode traffic lignt dari sebuah plant lampu lalu lintas.
Penelitian ini bertujuan untuk memperbaiki Pada pusat kontrol, data digital diubah ke analog menggunakan decoder dan di-input-kan ke radio HT untuk dikirim. Selanjutnya pada penerima, data analog tersebut diubah kembali ke bentuk data digital dan microcontroller single chip akan menerimanya sebagai data yang berisi perintah yang harus dilakukan. Dalam setiap data yang dikirimkan terdapat semacam ID sebagai alamat pos (tempat yang terdapat traffic light-nya), sehingga hanya tempat yang ID-nya sesuai saja yang dapat menjalankan perintah yang ada pada data yang diterima.
Handy Talky (HT)
Radio panggil atau yang lebih dikenal dengan HT (Handy Talky) merupakan sebuah alat alat komuni¬kasi dua arah (halfduplex). Jadi, komunikasi dapat dilakukan dengan berbicara secara bergantian antara orang pertama dan kedua bahkan lebih pada satu jalur frekuensi dengan cara menekan tombol PTT (Push To Talk).
Selain sebagai media pengantar suara untuk komunikasi, HT juga dapat menghasilkan sinyal
DTMF. Sinyal DTMF pada HT ini sama dengan sinyal DTMF pada umumnya seperti halnya yang terdapat pada pesawat telepon. Gambar 2. menunjukkan bentuk dari sinyal DTMF yang dikeluarkan oleh HT.
Pada penelitian ini fungsi DTMF tidak digunakan, tetapi lebih menekankan pada pembuatan signal analog yang berisi data digital dan dikirimkan melalui sebuah radio modem (RF Modem).

Gambar 2. Sinyal DTMF dan Posisi Konektor Mic
Speaker Pada HT
Perencanaan System
Perencanaan system meliputi beberapa bagian, antara lain perencanaan Radio Modem, Relay Board, mikro-kontroler AT89C51 dan interface antara modem dengan komputer menggunakan kabel serial RS232 serta koneksi ke radio HT (Handy Talky). Berikut ini diberikan gambar blok diagram sistem.

Jumat, 08 Januari 2010

PENGARUH SISTEM PENCAHAYAAN TERHADAP KUALITAS PADA STUDIO TELEVISI

Dengan perkembangan Ilmu dan Teknologi yang sangat pesat dewasa ini, maka sektor pendidikan dan kejuruan harus selalu tanggap dan mampu menggunakan peralatan dari hasil-hasil perkembangan ilmu dan teknologi. Sektor pendidikan memerlukan tenaga kerja yang berkualitas dan kompetensi dalam bidang pendidikan. Tersedianya tenaga pendidikan yang memiliki kualitas dan potensi sesuai dengan bidang studinya merupakan usaha pemenuhan salah satu program pembangunan pada sektor pendidikan, yaitu meningkatkan mutu dan perluasan pendidikan. Falkutas Teknik Universitas Negeri Jakarta adalah unsure pelaksana serbagai tenaga pokok Universitas dalam bidang pendidikan, pengembangan panelitian, dan pengabdian masyarakat dalam bidang teknologi dan kejuruanserta melaksanakan pembinaan akademik.
Dari latar belakang di atas dapat diindetifikasi hal-hal sebagai berikut:
1. Apakah sistem pencahayaan dapat mempengaruhi kualitas gambar pada studio televisi ?
2. Faktor apa saja yang mempengaruhi kualitas gambar pada studio televisi ?
3. Apakah kuat cahaya dapat mempengaruhi kualitas gambar pada studio televisi ?
4. Apakah jenis lampu yang dipergunakan dapat mempengaruhi kualitas gambar pada studio televisi ?
5. Apakah warna lampu dapat mempengaruhi kualitas gambar pada studio televisi ? Karena cakupan mengenai ini cukup luas maka penelitian ini hamya dibatasi pada masalah: Mengukur intensitas penerangan yang dihasilkan oleh lampu yang dipergunakan serta jenis lampu yang dipergunakan pada studio Televisi Tranformasi Indonesia (Trans TV).
Dari indentifikasi masalah yang ada sebagai berikut: “Apakah sistem pencahayaan dapat mempengaruhi kualitas gambar pada studio televisi ?”
Berdasarkan masalah yang telah penulis rumuskan, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah sistem pencahayaan dapat mempengaruhi kualitas gambar pada studio televisi.
Penelitian ini dilakukan dengan harapan mahasiswa dapat mengetahui dan memahami sistem pencahayaan yang digunakan secara khusus di PT. Televisi Transformasi Indonesia ( TRANS TV ) dan secara umum di stasiun-stasiun televisi lainnya.

Metode penelitian
Metode yang digunakan penulisan dalam penelitian ini adalah metode survei Epidemiologis analitis cross sectional. Survai ini bertujuan untuk mempelajari korelasi antar factor resiko dan efek. Observasi dikerjakan sekaligus pada saat, jadi menggunakan pendekatan saat tertentu
Hasil penelitian
Dari pengamayan yang telah dilakukan di Studio Televisi Transformasi Indonesia maka didapati system pencahayaan dibagi menjadi tiga bagian lampu inti yaitu:

1.Lampu Utama
1.1 Key Light
sesuai namanya, Key Light adalah cahaya utama yang memberi efek yang paling dominan Pada subyek. Oleh karena itu intensitasnya paling besar dan menimbulkan bayangan. Letak Key Light ideal adalah antara 30-450 dari sisi kanan kamera. Vertical angle Key Light idealnya adalah 450 dari subyek
1.2 Fill Light
Fill Light adalah cahaya tambahan yang berguna umtuk menghilangkan atau meminilisir bayangan yang ditimbulkan oleh Key Light.
1.3 Back Light
Back Light adalah sumber cahaya yang datang dari belakang subyek.
1.4 Background Light
Perbedaan Background Light dengan Back Light adalah: cahaya Back Light untuk menerangai daerah belakang subyek, sedangkan cahaya Back Light untuk menerangi depan set atau latar belakang
2 Lampu Warna (Color Light)
Selain empat lampu yang digunakan, digunakan juga lampu warna (colour light). Lampu warna atau lampu colour light disebut lampu PAR (Parabolic Aluminized Refector). Lampu PAR memiliki daya lampu 1000 watt engan tegangan 220 volt. Terdapat tiga macam lampu Par antara lain:
PAR Medium: cahaya yang dihasilkan atau di pancarkan meluas kesegala arah,oleh sebab itu PAR ini tidak memiliki garis cahaya
PAR Nero: cahaya yang dihasilkan atau dipancarkan sedikit lebih kecil dari PAR medium. Lampu ini memiliki garis cahaya.
PAR Parinero: cahaya yang dihasilkan atau di pancarkan lebih tajam dari kedua macam lampu PAR diatas, sehingga akibat ketajaman cahaya yang dihasilkan dapat dilihat garis cahayanya.
Selain lampu PAR digunakan juga lampu ACL (Aircragt Landing Light), tetapi lampu ACL ini menggunakan arus DC sebesar 24 volt dengan daya lampu sebesar 650 watt
3. Lampu Efek
Lampu efek sebenarnya ada banyak tetapi yang sering kali digunkan di studio Televisi Transformasi Indonesia antara lain:
A. Technobeam
Lampu efek ini memiliki 12 pook warna pilihan, dengan daya lampu yang dihasilkan 375 watt; 100V-240V, 50/60Hz, kelebihan lampu efek ini memiliki gobo (bentuk cahaya). Bentuk cahaya yang dihasilkan bisa berbentuk bintang,lingkaran, segitiga, dan lain-lain
B. Cyberlight
Lampu efek cahaya sama dengan lampu efek Technobeam, yang membedakan Cyberlight dengan Technobeam adalah daya lampu yang dihasilkan 1300 watt; 208V-230V, 50/60Hz. Hanya memiliki pokok 8 warna cahaya pilihan
C. Studio Colour
Lampu efek studio colour memiliki 8 pokok warna cahaya pilihan. Daya yang dihasilkan 700W ; 100V-240V, 50/60Hz
D. Studio Beam
Lampu efek studio beam sama dengan studio colour. Studio beam memiliki 3 pokok warna cahaya pilihan. Daya yang dihasilkan 100W; 100V-240V, 50/60Hz lampu ini juga tidak memiliki gobo (warna cahaya)

Salah satu unsur yang penting dalam tayangan televisi adalah pencahayaan. Pencahayaan yang dipakai bukan hanya sekedar untuk memperlihatkan pertujukan saja, tetapi dapat memberi efek-efek yang lain. Karena dari pencahayaan yang digunaka dapat mempengaruhi hasil gambar secara visual. Hal inilah yang menjadi perhatian penting sebuah studio televisi. Selain itu juga mutu cahaya mempunyai efek kejiwaan pada bawah sadar, tidak hanya pada mata tapi juga kepada emosi dan persepsi kita pada lingkungan yang diakibatkan secara langsung oleh karakter cahaya sekelilingnya.

Senin, 02 November 2009

Electrostatic Precipitator


Aplikasi dari electrostatic pada dunia industri digunakan untuk mengatasi masalah limbah debu. Industri yang mengaplikasikannya antara lain PLTU, pabrik gula dan pabrik semen, salah satu caranya adalah dengan menggunakan electrostatic precipitator (ESP).


ElectroStatic Precipitator (ESP) adalah salah satu alternatif penangkap debu dengan effisiensi tinggi (mencapai diatas 90%) dan rentang partikel yang didapat cukup besar. Dengan menggunakan electro static precipitator (ESP) ini, jumlah limbah debu yang keluar dari cerobong diharapkan hanya sekitar 0,16 % (efektifitas penangkapan debu mencapai 99,84%).

Salah satu komponen terpenting dalam proses produksi di Pabrik Gula dan PLTU adalah boiler. Fungsinya adalah sebagai tempat untuk memanaskan air, sehingga menghasilkan uap yang nantinya akan digunakan untuk proses selanjutnya. Pada PLTU, uap ini digunakan untuk memutar turbin uap sebagai penggerak generator. Untuk melakukan kerjanya, boiler membutuhkan adanya panas yang digunakan untuk memanaskan air. Panas ini disuplai dari bagian yang disebut dengan ruang bakar atau furnace, dimana pada ruang bakar ini dilengkapi dengan alat pembakaran atau burner. Hasil pembakaran di ruang bakar tersebut mengandung banyak debu mengingat bahan bakar yang digunakan adalah batubara, dan debu tersebut akan terbawa bersama gas buang menuju cerobong. Sebelum gas buang tersebut keluar melalui cerobong, maka gas buang tersebut akan melewati kisi-kisi suatu electrostatic precipitator (ESP).

                                         Gambar 1. Electrostatic precipitator overview.





Gambar 2. Persentase penangkapan partikel debu pada ESP.



Cara Kerja ElectroStatic Precipitator



Cara kerja dari electro static precipitator (ESP) adalah (1) melewatkan gas buang (flue gas) melalui suatu medan listrik yang terbentuk antara discharge electrode dengan collector plate, flue gas yang mengandung butiran debu pada awalnya bermuatan netral dan pada saat melewati medan listrik, partikel debu tersebut akan terionisasi sehingga partikel debu tersebut menjadi bermuatan negatif (-). (2) Partikel debu yang sekarang bermuatan negatif (-) kemudian menempel pada pelat-pelat pengumpul (collector plate), lihat gambar 4. Debu yang dikumpulkan di collector plate dipindahkan kembali secara periodik dari collector plate melalui suatu getaran (rapping). Debu ini kemudian jatuh ke bak penampung (ash hopper), lihat gambar 1 dan 2, dan ditransport (dipindahkan) ke flyash silo dengan cara di vakum atau dihembuskan.



                               Gambar 3. Bagian-bagian dari electrostatic precipitator.




                                                       Gambar 4. Proses ionisasi.



Proses Pembentukan Medan Listrik


Proses pembentukan medan listrik; (1) Terdapat dua jenis electrode, yaitu discharge electrode yang bermuatan negatif dan collector plate electrode bermuatan positif. (2) Discharge electrode diletakkan diantara collector plate pada jarak tertentu (memiliki jarak antara discharge electrode dengan collector plate). (3) Discharge electrode diberi listrik arus searah (DC) dengan muatan minus (lihat gambar 3), pada level tegangan antara 55 – 75 KvDC (sumber listrik awalnya adalah 380 volt AC, kemudian dinaikkan oleh transformer menjadi sekitar 55 – 75 Kv dan dirubah menjadi listrik DC oleh rectifier, diambil hanya potensial negatifnya saja). (4) collector plate ditanahkan (di-grounding) agar bermuatan positif. (5) Dengan demikian, pada saat discharge electrode diberi arus DC maka medan listrik terbentuk pada ruang yang berisi tirai-tirai electrode tersebut dan partikel-partikel debu akan tertarik pada pelat-pelat tersebut, Gas bersih kemudian bergerak ke cerobong asap.


Electrostatic precipitator merupakan salah satu cara agar Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) ataupun industri lainnya yang berpotensi menghasilkan limbah debu menjadi ramah lingkungan, setidaknya dapat mengurangi kandungan polutan yang dibuang melalui cerobong.

Sumber : www.beritaiptek.com

 

 

Reverse Power Relay


Reverse power biasanya digunakan untuk menjelaskan mengenai fenomena perubahan unjuk kerja dari generator menjadi motor.


jadi dalam kejadian ini, sebuah generator yang tadinya menghasilkan daya listrik, berubah menjadi menggunakan daya listrik, dengan kata lain generator menjadi motor listrik. Hal ini bisa terjadi karena pada dasarnya antara generator dan motor memiliki konstruksi yang sama dan jika:

1. generator dihubungkan paralel atau bergabung dalam suatu jaringan dengan generator lain.


2. torsi yang dihasilkan oleh penggerak mula (prime mover, dalam hal ini misalkan turbin uap, turbin air, atau mesin diesel) lebih kecil dari torsi yang dibutuhkan untuk menjaga agar kecepatan rotornya berada pada kecepatan proporsionalnya (dengan referensi frekuensi sistem).

3. terjadi kehilangan torsi dari penggerak mulanya (dengan kata lain penggerak mulanya seperti turbin atau mesin diesel "TRIP" atau mengalami kegagalan operasi) dan generator masih terhubung dengan jaringan. Karena masih ada kecepatan sisa pada rotornya, sedangkan disisi statornya ada tegangan dari jaringan, sehingga tegangan di stator menginduksi ke lilitan rotor yang berputar.

Dampak reverse power adalah sebagai berikut:


1. untuk diesel generator dapat terjadi ledakan pada ruang bakarnya karena adanya akumulasi bahan bakar yang tak terbakar sedangkan rotor terus berputar.


2. pada gas turbin juga akan merusak gearbox nya dan


3. pada hydro plant (turbin air) akan terjadi kavitasi.



Inti dari semuanya, jika terjadi reverse power pada suatu unit pembangkit listrik adalah terjadi kerusakan pada peralatan penggerak mulanya (prime mover) atau turbinnya. oleh karena itu pada generator dipasang relay reverse power sebagai pengamannya, dan biasanya interlock dengan generator CB nya.



reverse power relay bekerja dengan mengukur komponen aktif arus beban, I x cos ฯ†.

Ketika Generator beroperasi dan menghasilkan daya listrik maka komponen arus beban I x cos ฯ† bernilai positif, sedangkan dalam kondisi reverse power maka komponen beban aktif I x cos ฯ† akan berubah menjadi bernilai negatif. Dan jika nilai negatif ini melampaui set point dari relay, maka relay reverse power akan bekerja dan beberapa saat kemudian memerintahkan Circuit breaker untuk membuka.

Sumber : www.beritaiptek.com

Sistem Eksitasi

Sistem eksitasi adalah sistem pasokan listrik DC sebagai penguatan pada generator listrik atau sebagai pembangkit medan magnet, sehingga suatu generator dapat menghasilkan energi listrik dengan besar tegangan keluaran generator bergantung pada besarnya arus eksitasinya.

Sistem ini merupakan sistem yang vital pada proses pembangkitan listrik dan pada perkembangannya, sistem Eksitasi pada generator listrik ini dapat dibedakan menjadi 2 macam, yaitu:

1. Sistem Eksitasi dengan menggunakan sikat (brush excitation)
2. Sistem Eksitasi tanpa sikat (brushless excitation).

1. Sistem Eksitasi dengan sikat



Pada Sistem Eksitasi menggunakan sikat, sumber tenaga listriknya berasal dari generator arus searah (DC) atau generator arus bolak balik (AC) yang disearahkan terlebih dahulu dengan menggunakan rectifier.

Jika menggunakan sumber listrik listrik yang berasal dari generator AC atau menggunakan Permanent Magnet Generator (PMG) medan magnetnya adalah magnet permanent. Dalam lemari penyearah, tegangan listrik arus bolak balik diubah atau disearahkan menjadi tegangan arus searah untuk mengontrol kumparan medan eksiter utama (main exciter).

Untuk mengalirkan arus Eksitasi dari main exciter ke rotor generator menggunakan slip ring dan sikat arang, demikian juga penyaluran arus yang berasal dari pilot exciter ke main exciter .



Gambar 1. Sistem Eksitasi dengan sikat (Brush Excitation).

Prinsip kerja pada sistem Eksitasi dengan sikat (Brush Excitation)

Generator penguat yang pertama, adalah generator arus searah hubungan shunt yang menghasilkan arus penguat bagi generator penguat kedua. Generator penguat (exciter) untuk generator sinkron merupakan generator utama yang diambil dayanya.

Pengaturan tegangan pada generator utama dilakukan dengan mengatur besarnya arus Eksitasi (arus penguatan) dengan cara mengatur potensiometer atau tahanan asut. Potensiometer atau tahanan asut mengatur arus penguat generator pertama dan generator penguat kedua menghasilkan arus penguat generator utama. Dengan cara ini arus penguat yang diatur tidak terlalu besar nilainya (dibandingkan dengan arus generator penguat kedua) sehingga kerugian daya pada potensiometer tidak terlalu besar. PMT arus penguat generator utama dilengkapi tahanan yang menampung energi medan magnet generator utama karena jika dilakukan pemutusan arus penguat generator utama harus dibuang ke dalam tahanan.

Sekarang banyak generator arus bolak-balik yang dilengkapi penyearah untuk menghasilkan arus searah yang dapat digunakan bagi penguatan generator utama sehingga penyaluran arus searah bagi penguatan generator utama, oleh generator penguat kedua tidak memerlukan cincin geser karena. penyearah ikut berputar bersama poros generator. Cincin geser digunakan untuk menyalurkan arus dari generator penguat pertama ke medan penguat generator penguat kedua. Nilai arus penguatan kecil sehingga penggunaan cincin geser tidak menimbulkan masalah.
Pengaturan besarnya arus penguatan generator utama dilakukan dengan pengatur tegangan otomatis supaya nilai tegangan klem generator konstan. Pengaturan tegangan otomatis pada awalnya berdasarkan prinsip mekanis, tetapi sekarang sudah menjadi elektronik.

Perkembangan sistem eksitasi pada generator sinkron dengan sistem eksitasi tanpa sikat, karena sikat dapat menimbulkan loncatan api pada putaran tinggi. Untuk menghilangkan sikat digunakan dioda berputar yang dipasang pada jangkar. Gambar 2 menunjukkan sistem excitacy tanpa sikat.

2. Sistem Eksitasi tanpa sikat (brushless excitation)

Penggunaan sikat atau slip ring untuk menyalurkan arus excitasi ke rotor generator mempunyai kelemahan karena besarnya arus yang mampu dialirkan pada sikat arang relatif kecil. Untuk mengatasi keterbatasan sikat arang, digunakan sistem eksitasi tanpa menggunakan sikat (brushless excitation.

Keuntungan sistem eksitasi tanpa menggunakan sikat (brushless excitation), antara lain adalah:
1) Energi yang diperlukan untuk Eksitasi diperoleh dari poros utama (main shaft), sehingga keandalannya tinggi
2) Biaya perawatan berkurang karena pada sistem Eksitasi tanpa sikat (brushless excitation) tidak terdapat sikat, komutator dan slip ring.
3) Pada sistem Eksitasi tanpa sikat (brushless excitation) tidak terjadi kerusakan isolasi karena melekatnya debu karbon pada farnish akibat sikat arang.
4) Mengurangi kerusakan ( trouble) akibat udara buruk (bad atmosfere) sebab semua peralatan ditempatkan pada ruang tertutup
5) Selama operasi tidak diperlukan pengganti sikat, sehingga meningkatkan keandalan operasi dapat berlangsung terus pada waktu yang lama.
6) Pemutus medan generator (Generator field breaker), field generator dan bus exciter atau kabel tidak diperlukan lagi
7) Biaya pondasi berkurang, sebab aluran udara dan bus exciter atau kabel tidak memerlukan pondasi

  

Prinsip kerja sistem Eksitasi tanpa sikat (Brushless Excitation)

Generator penguat pertama disebut pilot exciter dan generator penguat kedua disebut main exciter (penguat utama). Main exciter adalah generator arus bolak-balik dengan kutub pada statornya. Rotor menghasilkan arus bolak-balik disearahkan dengan dioda yang berputar pada poros main exciter (satu poros dengan generator utama). Arus searah yang dihasilkan oleh dioda berputar menjadi arus penguat generator utama. Pilot exciter pada generator arus bolak-balik dengan rotor berupa kutub magnet permanen yang berputar menginduksi pada lilitan stator. Tegangan bolak-balik disearahkan oleh penyearah dioda danmenghasilkan arus searah yang dialirkan ke kutub-kutub magnet y ang ada pada stator main exciter. Besar arus searah yang mengalir ke kutub main exciter diatur oleh pengatur tegangan otomatis (automatic voltage regulator/AVR).

Besarnya arus berpengaruh pada besarnya arus yang dihasilkan main exciter, maka besarnya arus main exciter juga mempengaruhi besarnya tegangan yang dihasilkan oleh generator utama.

Pada sistem Eksitasi tanpa sikat, permasalahan timbul jika terjadi hubung singkat atau gangguan hubung tanah di rotor dan jika ada sekering lebur dari dioda berputar yang putus, hal ini harus dapat dideteksi. Gangguan pada rotor yang berputar dapat menimbulkan distorsi medan magnet pada generator utama dan dapat menimbulkan vibrasi (getaran) berlebihan pada unit pembangkit.

Selasa, 27 Oktober 2009

PERKEMBANGAN PROCESSOR BERBASIS INTEL

Ada banyak macam processor yang tersedia saat ini. Beberapa didesain untuk kebutuhan pada komputer portable, yang lainnya khusus didesain untuk penggunaan multi media. Pembahasan berikut ini menerangkan secara sekilas tentang tipe prosesor berbasis Intel secara umum beserta fitur- fiturnya.

MMX Technology

Teknologi MMX dari Intel didesain untuk meningkatkan performa multimedia dan aplikasi komunikasi. Sebelum adanya MMX, beberapa processor secara terpisah digunakan untuk mengimplementasikan komunikasi dan suara dalam system komputer. Dengan desain MMX, teknologi ini dapat ditambahkan ke dalam desain dari processor. Hal ini berarti himpunan instruksi yang dimiliki oleh processor dioptimalkan untuk menangani bidang multimedia dan program komunikasi. MMX menambahkan 57 instruksi baru dalam himpunan instruksi dasar dari processor.

Instruksi- instruksi ini dioptimalkan untuk dapat melakukan eksekusi dengan cepat. Tipe data baru dan 64 bit registers juga ditambahkan untuk mendukung teknologi MMX.

Pentium II

Processor utama ini memiliki fitur :

· Kecepatan yang berkisar antara 233MHz sampai 450MHz (di tahun 1999)

· Cocok untuk workstations maupun servers

· Menggunakan single edge contact cartridge, 242 pins

· Termasuk 512KB level two cache

· 32KB dari level one cache dibagi menjadi 16KB data dan 16KB instruksi cache

Pentium Pro

Rangkaian Prosessor ini sesuai untuk high-end servers yang membutuhkan sampai 4 processor. Fitur yang dimilikinya :

· sesuai untuk high end workstations dan servers

· kecepatannya 150, 166, 180 dan 200MHz

· dapat diskalakan sampai 4 processors dalam sistem multiprocessor

· dioptimalkan sampai dapat menjalankan aplikasi 32 bit.

· 8K/8K data terpisah dan instruksi level one cache

Cerelon Processor

Processor Cerelon didesain untuk pemakaian pasar konsumen di rumahan. Processor ini memiliki fitur :

· kecepatan berkisar dari 266 sampai 500MHz (di tahun 1999)

· Mirip dengan Pentium II processor

· Versi 300 dan 333MHz termasuk 128K dari level two cache

· level one cache 32K (terdiri dari 16K instruksi dan 16K data)

· meliputi teknologi MMX

Pentium III Processor

Berdasarkan pada mikro arsitektur P6, merupakan media Intel MMX yang ditingkatkan dengan penyediaan Streaming SIMD Extensions. Diaman terdapat 70 instruksi baru yang memungkinkan penggambaran image tingkat lanjut, grafik 3D, audio dan video, dan pengenalan percakapan. Fitur barunya adalah processor serial number, yaitu suatu nomer elektronik yang ditambahkan ke setiap Processor Pentium III, yang dapat digunakan oleh departement IT untuk manajemen informasi/asset.

Processor ini memiliki fitur :

· kecepatan berkisar 450MHz, 500MHz, 550MHz dan 600MHz (di tahun 1999)

· 70 Instruksi baru

· Intel® Processor Serial Number

· P6 Microarchitecture

· 100MHz system bus

· 512K Level Two Cache

· Intel® 440BX chipset

 

Xeon Pentium III Processor

Merupakan processor yang dapat diskalakan (multiprocessor) sebanyak 2, 4, 8 atau lebih dan didesain secara khusus untuk mid-range dan server/workstations yang lebih tinggi tingkatannya.

 

Processor ini memiliki fitur :

· Sesuai untuk high end workstations atau high end servers

· Kecepatan berkisar dari 500 sampai 550MHz (di tahun 1999)

· Mendukung penskalaan multiprocessor

· Memiliki processor serial number

· 32KB (16KB data /16KB instruction) nonblocking, L1 cache

· 512Kbytes L2 cache

Generasi ke 8 Intel Core 2 duo

Processor generasi ke 8 adalah Core 2 Duo yang di luncurkan pada juli 2007. Processor ini memakai microprocessor dengan arsitektur x86. Arsitektur tersebut oleh Intel dinamakan dengan Intel Core Microarchitecture, di mana arsitektur tersebut menggantikan arsitektur lama dari Intel yang disebut dengan NetBurst sejak tahun 2000 yang lalu. Penggunaan Core 2 ini juga menandai era processor Intel yang baru, di mana brand Intel Pentium yang sudah digunakan sejak tahun 1993 diganti menjadi Intel Core.

Pada desain kali ini Core 2 sangat berbeda dengan NetBurst. Pada NetBurst yang diaplikasikan dalam Pentium 4 dan Pentium D, Intel lebih mengedepankan clock speed yang sangat tinggi. Sedangkan pada arsitektur Core 2 yang baru tersebut, Intel lebih menekankan peningkatan dari fitur-fitur dari CPU tersebut, seperti cache size dan jumlah dari core yang ada dalam processor Core 2. Pihak Intel mengklaim, konsumsi daya dari arsitektur yang baru tersebut hanya memerlukan sangat sedikit daya jika dibandingkan dengan jajaran processor Pentium sebelumnya.

Processor Intel Core 2 mempunyai fitur antara lain EM64T, Virtualization Technology, Execute Disable Bit, dan SSE4. Sedangkan, teknologi terbaru yang diusung adalah LaGrande Technology, Enhanced SpeedStep Technology, dan Intel Active Management Technology (iAMT2).

Berikut adalah beberapa codenamed dari core processor yang terdapat pada produk processor Intel Core 2, tentunya codenamed tersebut mempunyai perbedaan antara satu dengan yang lainnya.

CONROE

Core processor dari Intel Core 2 Duo yang pertama diberi kode nama Conroe. Processor ini dibangun dengan menggunakan teknologi 65 nm dan ditujukan untuk penggunaan desktop menggantikan jajaran Pentium 4 dan Pentium D. Bahkan pihak Intel mengklaim bahwa Conroe mempunyai performa 40% lebih baik dibandingkan dengan Pentium D yang tentunya sudah menggunakan dual core juga. Core 2 Duo hanya membutuhkan daya yang lebih kecil 40% dibandingkan dengan Pentium D untuk menghasilkan performa yang sudah disebutkan di atas.

Processor yang sudah menggunakan core Conroe diberi label dengan “E6×00”. Beberapa jenis Conroe yang sudah beredar di pasaran adalah tipe E6300 dengan clock speed sebesar1.86 GHz, tipe E6400 dengan clock speed sebesar 2.13 GHz, tipe E6600 dengan clock speed sebesar 2.4 GHz, dan tipe E6700 dengan clock speed sebesar 2.67 GHz. Untuk processor dengan tipe E6300 dan E6400 mempunyai Shared L2 Cache sebesar 2 MB, sedangkan tipe yang lainnya mempunyai L2 cache sebesar 4 MB. Jajaran dari processor ini memiliki FSB (Front Side BUS) sebesar 1066 MT/s (Megatransfer) dan daya yang dibutuhkan hanya sebesar 65 Watt TDP (Thermal Design Power).

CONROE XE

Core processor berikutnya adalah Conroe XE yang saat ini banyak menjadi bahan perbincangan. Conroe XE sendiri adalah core processor dari Intel Core 2 Extreme yang diluncurkan bersamaan dengan Intel Core 2 Duo pada 27 Juli 2006. Conroe XE mempunyai tenaga lebih dibandingkan dengan Conroe. Tipe pertama dan satusatunya yang dikeluarkan oleh Intel untuk jajaran processor Core 2 Extreme adalah X6800 dan sudah beredar di pasaran saat ini meskipun jumlahnya sangat terbatas.

Processor Intel Core 2 yang sudah memakai Intel Core 2 Extreme dengan core Conroe XE ini akan menggantikan posisi dari Processor Pentium 4 EE (Extreme Edition) dan Dual Core Extreme Edition. Core 2 Extreme mempunyai clock speed sebesar 2.93 GHz dan FSB sebesar 1066 MT/s. Keluarga dari Conroe XE memerlukan TDP hanya sebesar 75 sampai 80 Watt. Dalam keadaan full load temperature processor dari X6800 yang dihasilkan tidak akan melebihi 450C. Lain lagi jika fungsi SpeedStep-nya berada dalam keadaan aktif. Jika aktif, maka temperatur processor saat keadaan idle yang dihasilkan oleh X6800 hanya berkisar sekitar 250C. Cukup mengesankan, mengingat pada generasi sebelumnya processor Intel Pentium 4 Extreme Edition menghasilkan panas yang bisa dikatakan sangat tinggi.

ALLENDALE

Core processor ini dipakai oleh processor Core 2 Duo dengan core Conroe yang hanya memiliki 2 MB L2 Cache. Beberapa Core 2 Duo yang memakai Allendale sebagai core processornya adalah E6300 dengan clock speed sebesar 1.86 GHz dan E6400 dengan clock speed 2.13 GHz, keduanya memiliki FSB sebesar 1066 MT/s.

MEROM

Merom adalah core processor Intel Core 2 versi mobile pertama yang diluncurkan secara bersamaan dengan Conroe, Conroe XE, dan Allendale. Pada dasarnya, Merom mempunyai spesifikasi dan fitur yang sama dengan Conroe namun Merom mempunyai kelebihan, yaitu ia hanya membutuhkan daya yang sedikit. Pihak Intel sendiri mengklaim bahwa Merom mampu mendongkrak kinerja dari notebook sebesar 20%, namun dengan menggunakan resource daya yang sama dengan processor core duo yang memakai core processor Yonah. Selain itu, Merom adalah processor mobile Intel pertama yang telah mengintegrasikan teknologi EM64T 64-bit di dalamnya. Merom sendiri mempunyai FSB sebesar 667 MT/s sama persis dengan jajaran processor sebelumnya yaitu Intel Core Duo.

 

Processor Core 2 yang menggunakan core processor Merom diberi label dengan “T5×00” dan “T7×00”. Keduanya mempunyai besar shared L2 cache yang berbeda. Pada T5×00 L2 cache yang diusung adalah sebesar 2 MB, sedangkan pada T7×00 L2 cache-nya adalah sebesar 4 MB.

Beberapa jenis dari Merom adalah T5500 dengan clock speed sebesar 1.66 GHz, T5600 dengan clock speed sebesar 1.83 GHz, T7200 dengan closk speed sebesar 2.00 GHz, T7400 dengan clock speed sebesar 2.16 GHz, dan T7600 dengan clock speed sebesar 2.33 GHz.

Selasa, 06 Oktober 2009

Apikasi Muktiplekser Dan Demultiplekser Pada Interaktif Speaker Untuk Ruangan Kelas

Alat ini dap digunakan sebagai interaktir speaker untuk ruangan kelas. Alat ini terdiri dari beberapa bagian yaitu input (mikropon, tape recorder dan saklar pemilih), bagian proses (multiplekser, dan multiplekser), baguan output (mikropon dan speaker). Mikropon berfungsi untuk mengubah getaran suara manjadi sinyal listrik. Tape recorder berfungsi untuk menghasilkan sinyal suara. Sakelar pemilih berfungsi untuk memilih ruangan mana yang akan diaktifkan. Multiplekser berfungsi untuk mengubah input banyak menjadi output sedikit. Demultiplrkser berfungsi untuk mengubah input banyak menjadi input sedikit.speaker berfungsi untuk menghasilkan suara.

Kata kunci : Multiplekser, demultiplekser, amplifier, mikropon

 

A. Deskripsi Teoritis

1. Speaker Aktif

Dalam suatu pagelara musik, kita tidak hanya melihat pemusik saja, tetapi juga mendengarkan suara yang dihasilkan oleh sistem tata suara atau sound sistem. Frekuensi yang dapat didengar oleh manusia adalah berkisar antara 20Hz-20KHz. Frekuensi ini dinamakan frekuensi audio. Getaran dapat didengar oleh manusia karena adanya medium yang berupa udara, alat pendengar dan otak oleh alat pendengaran. Audio diartikan sebagai bentuk gabungan dari pengertian “pendengaran” dan “suara” yang berasal dari bahasa latin “audire” yang berarti mendengarkan.audio adalah unsur audio visual atau yang dapatdi dengarkan pada pesawat televisi untuk membedakannya dari unsur visual atau yang dapat dilihat.1

Dalam sistem audio sederhana, power amplifier ditempatkan di dalam kotak speaker yang disebut dengan speaker aktif.2 Speaker yaitu pengeras suara, atau alat yang berfungsi untuk mengubah getaran listrik menjadi getaran suara. Speaker merupakan komponen terakhir dalam suatu rangkaian sound sistem yang mengubah rangkaian sinyal-sinyal listrik menjadi suara.3

a. Input

Input pada sistem audio bisa berupa TV, VCD, komputer, dan lain-lain. Dalam hal ini menggunakan tape recorder dan mikropon.

b. Pre Amplifier

Keluaran dari tape recorder merupakan input untuk loud speaker. Input sinyal audio dikuatkan oleh pre-amplifier sebelum sinyal tersebut diumpankan ke pengatur nada. Sinyal suara yang masih lemah tersebut dikuatkan dengan cara memproduksikannya kembali menjadi ipit suara yang mempunyai input suara yang memiliki frekuensi yang enak didengar oleh telinga manusia.

c. Mixer

Setelah dikuatkan dengan power pre-amlifier, maka sinyal diumpankan ke pengatur nada.

d. Power Amplifier

Power amplifier megubah sinyal suara menjadi sinyal yang lebih kuat untuk diterima loud speaker.

e. Loud Speaker

Loud Speaker mengubah energi listrik menjadi gerakan mekanik melalui konus speaker, kemudian udara yang ada disekitarnya bergetar dan menjadi suara yang dapat didengar sesuai dengan sumbernya.

 

2. Multiplekser

Multiplekser adalah suatu rangkaian yang berfungsi sebagai pemilih sinyal. Sejumlah sinyal masukan diberikan ke multiplekser dan multiplekser ini dengan bantuan sinyal pengendali memilih beberapa sinyal yang jumlah masukannya lebuh kecil dari masukannya untuk kemudian disalurkan. Pada dasarnya multiplekser ini berfungsi sebagai pemilih. Suatu multiplekser digital adalah suatu rangkaian yang memilih data dari 2n masukan dan mengarahkannya menuju sebuah keluaran tunggal. Pemilihan jalur pemindahan masukan ke keluaran itu diatur oleh suatu himpunan pemilih masukan. Multiplekser adalah suatu piranti elektronik yang berfungsi seperti sakelar putar yang sangat cepat.4 Dalam arti lain mengandung arti suatu rangkaian logika yang dapat menerima beberapa saluran data input yang terdiri dari satu bit atau lebih secara paralel dan pada outputnya hanya dilewatkan salah satu data saja yang terpilih. Saluran data input ini dikontrol oleh beberapa saluran kontrol yang sering disebut sebagai ssaluran pemilih. Jumlah saluran kontol berkaitan erat dengan jumlah saluran data input yangakan dikontrol. Moltiplekser banyak sekali jenisnya. Pada penelitian multiplekser yang akan dibahas adalah multiplekser 74LS147. miltiplekser ini merupakan multiplekser 9 line ke 4 line. Mempunyai 16 pin, terdiri dari 9 buah pin input dan 4 buah pin output, 2 buah pin catu daya dan satu buah pin NC.

Gambar Multiplexer

3. Demultiplexer

Demultiplexer adalah kebalikan dari multiplexer, rangkaian ini menerima informasi dari beberapa saluran dan membagikannya ke tujuan yang lebih banyak. Peralatan demultiplexer dan multiplexer bila digunakan bersama-sama dalam suatu sistam yang ingin melipat gandakan saluran data, mengirimkannya melalui suatu saluran, dan mengubahnya kembali menjadi bentuk data aslinya pada ujung penerima untuk kembali diproses. Demultiplexer adalah suatu transmisi yang dapat mentransmisikan daya masukan yang datang pada sebuah kawat tunggal pada salah satu dari beberapa jalur keluaran. Demultipexer merupakan suatu proses kebalikan dari multiplexer. Demultiplexer berfungsi mangambil satu dari saluran input atau lebih dan mendistribusikannya ke beberapa saluran output.

Gambar demultiplexer

Salah satu IC demiultiplexer adalah 74LS138. IC ini mempunyai 16 pin yang terdiri dari 8 pi input, 3 pin output, 2 pin catu daya, dan 3pi enable. IC 74LS138 berfungsi untuk menyalurkan 3 masukan data ke masukan ke 8 jalur keluaran. Setiap jalur data input yang ingin digunakan diubah kedalam bentuk biner. Jika dalam jalur data input Ao (ILL), yang digunakan, maka pada outputnya akan menghasilkan Qo (L). Rangkaian yang terdapat pada demultiplexer ini yaitu rangkaian Scmitt Trigger, JK flip-flop, amplifier, trnsistor sebagai sakelar, relay dan mikropon.

 

a. Schmitt Trigger

Rangkaian digital memerlukan bentuk gelombang dengan waktu naik turun yang cepat. Bentuk gelombang simbol inverting yang dibangun dengan menggunakan gerbang NAND Schmitt merupakan contoh sinyal digital yang baik.

Pada gambar ini bentuk gelombag sebelah kiri simbol inverting, menunjukkan waktu naik turun yang sangat lambat. Bentuk gelombang yang buruk ini mengakibatkan operasi yang tidak dapat diandalkan, apabila ldialirkan langsing ke pencacah, gerbang, atau rangkaian lainnya. Dalam contoh ini inverter pemicu schmitt digunakan untuk mempersegikan sinyal input sehingga berbentuk pulsa clock. Pemberian pulsa clock penting untuk LSI (Large Scale Integration), karena sinyal yang mencapai suatu titik dapat melalui jumlah gerbang yang berbeda, sehingga menimbulkan tundaan yang berbeda pula. Sebab lain terjadinya pulsa yang salah adalah sakelar mekanik. Jika sakelar mekanik dipakai untuk menguji gerbang, tidak ada masalah yang timbul karena hasil akhinya dibaca oleh LED. Jika sakelar dipakai untuk membangitkan pulsa clock atau pulsa apa saja yang akan dicacah akan menimbulkan getaran kontak. Oleh karena itu jika menggunakan sakelar mekanik, sakelar harus daihubungkan dengan rangkaian penghilang getaran

Rangkaian deboounching dapat diperoleh salah satunya dengan menggunakan rangkaian Schmitt. Rangkaian shcmitt dapat berpindah ke kedua arah, tetapi tidak dengan tegangan yang sama. Kecepatan pengalihan diatur sepenuhnya oleh rangkaian dalam, sehingga diperoleh waktu naik turun yang sangat cepat, walaupunterjadi perlambatan perubahan tagangan masukan.

 

b. JK Flip-flop

Pada JK flip-flop terdapat 3 buah input, yaitu CLK, J, dan K. J berfungsi sebagai pengendali jika J=0 maka output Q akan tetap seperti pada keadaan semula walaupun CL input bergerak berubah.

 

c. Amplifier

Amplifier atau penguat berfungsi untuk menguatkan sinyal-sinyal yang lemah agar amplitudonya menjadi lebih besar dengan tidak mengubah input yang diumpankan kepadanya. Amplifier merupak penerapan penting pada sifat-sifat komponen elektronika yan paling utama. Tanpa penguatan, sinyal-sinyal lemah tidak akan terbentuk sistem elektronika yang bermanfaat.7

Karakteristik Penguat

1. penguatan tegangan

2. Tinggi Tegangan Frekuensi

3. Tanggapan Frekuensi.8

Yang diutamakan adalah harga puncak dari tegangan keluaran (bukan harga efektif). Agar dengung tidak terdengar mengganggu, maka tegangan dengung jangan melampaui 1% di atas tegangan keluaran audio supaya paling kecil 40 db di bawah taraf audio.

 

 

 

Klasifikasi Penguat

  1. Kelas A. Piranti aktif dipanjar demikian rupa sehingga arus mengalir tanpa ada isyarat apapun. Harga arus panjar ini ditingkatkan atau diturunkan dari harga rata-rata oleh isyarat masukan. Cara operasi ini umumnya dipakai untuk penguat isyarat kecil daya rendah.
  2. Kelas B. piranti aktif dipanjar tepat pada titik sumbat sehingga arus yang mengalir adalah nol (0) bila tidak ada isyarat. Piranti menghantar pada saparuh siklus masukan.
  3. Kelas AB. Merupakan bentuk modifikasi kelas B yaitu piranti aktifnya diberi panjar kecil yang hanya cukup untuk membuat piranti penghantar sedikit. Kelas operasi ini banyak dipakai dalam penguat audio push pull dan penguat dayakomplementer untuk menghindarkan non-linearitas di titik seberangan.
  4. Kelas C. Piranti aktif dipanjar mundur melewati titik sumbat sehingga pirantinya hanya menghantar bila amplitudo separuh siklus masukan melebihi suatu harga yang reletif besar. Metode ini dipakai dalam penguat daya dan RF dan pulsa.

 

d. Transistor Sebagai Sakelar

Transistor sebagai adalah mengoperasikan transistor pada salah satu dari saturasi atau titik sumbat, tetapi tidak di tempat sepanjang garis beban. Apabila transistor berada dalam keadaan saturasi, transistor tersebut seperti sebuah sakelar yang tertutup dari kollektor ke emitter. Apabila transistor tersumbat, transistor seperti sebuah sakelar yang terbuka. Apabila arus bassis lebih besar atau sama dengan IB(sat), titik kerja Q berada pada ujung atas dari garis beban. Pada rangkaian tersebut, transistor seperti sebuah sakelar yang tertutup. Apabila arus bassi nol, transistor berada pada ujung bawah dan bekerja seperti sebuah sakelar yang terbuka.9 Apabila arus IB nol, arus IC akan menjadi arus bocor yang rendah dan tegangan yang melalui muatan RL diabaikan, sehingga besarnya tegangan VCE = VCC. Apabila jumlah nominal lB kecil, lC akan sam dengan hfe lB dan tegangan yang melalui RL akan menjadi:

VR = IC.RL

VCE=VCC-IC.RL

 

e. Relay

Relay adalah suatu alat elektromagnet yang dapat kontak-kontak metal pada saat menerima arus listrik. Pada dasarnya relay terdiri dari sebuah kumparan yang dililit pada suatu inti besi lunak yang apabila kumparan tersebut terkena arus listrik, maka inti besi lunak akan menjadi megnet kemudian magnet ini akan menari armatur-armatur dengan 2 pelat tipis yang terhubung antara kontak-kontak. Dilihat dari jenis sumber listrik, relay dibedakan menjadi dua jenis yaitu relay arus bolak-balik dan relay arus searah.

 

Konstruksi Relay

Relay terdiri dari lilitan kumparan kawat pada inti besi dan apabila inti besi tersebut dialiri arus listrik maka inti besi tersebut akan menjadi magnet dan inti tersebut akan menarik lengan kontak yang mengakibatkan kontak terbuka atau tertutup

 

f. Kikropon

Mikropon adalah tranducer yang mengubah suara menjadi perubahan tegangan “voltage varation”. Mikropon mengubah getaran sara menjadi getaran mekanik. Sebuah kumparan atau sebuah lempengan akan bergetar jika berada di lingkngan yang bergetar. Sebuah kumparan akan bergetar dengan berbagai macam cara diantaranya:

  1. Jika menggunakan kumparan yang bergerak di dalam medan magnet.
  2. Jika menggunakan banyak atau sedikit tekanan pada salah satu jenis kristal.
  3. Ddengan menggunakan kondensator yang salah satu lempangannya bergerak dengan irama suara.10

Sebuah mikropon menghasilkan sinyal listrik ketika digerakkan oleh gelombang bunyi.11 mikropon ada beberapa jenis diantaranya: mikropon kristal, mikropon kondensor, dan mikropon dinamik. Prinsip kerja pada mikropon adalah dalam setiap mikropon terdapat diafragma yang akan bergetar jika bunyi menyentuhnya. Diafragma tersebut dihubungkan dengan sebuah detektor yang akan mengubah suara menjadi getaran listrik yang akan berubah sesuai dengan perubahan getaran gelombang bunyi. Ada beberapa jenis detektor yang akan menguubah gataran suara manjadi getaran listrik salah satunya berisis kumparan kecil kawat di dalam sebuah magnet. Pada saat suara memasuki mikropon, kumparan akan bergerak maju dan mundur di dalam medan magnet. Ini menyebabkan kumparan menimbulkan suatu sinyal listrik dan akan mengirmkan sinyal tersebut menuju sistem bunyi. Diafragma menyebabkan dempet atau lengket kawat kawat suara bergerak kedal medan magnet.untuk memperoleh suara yang diinginkan maka diperlukan sebuah penguat pada sensor, karena sinyal yang dihasilkan oleh mik cukup kecil. Impedansi mikropon ada 2 golongan yaitu impedansi tinggi dan impedansiimpedansi rendah. Mikropon impedansi tinggi digunakan dengan kabel pendek dari pemancarnya sebab:

Kabel tidak dapat dibuat sangat panjang tanpa diberi transformator penjodoh.

Kabelpun pelu bercadar supaya tidak memungut dengung dan desah.

Mikropon impedansi tinggi biasanya 100 Kohm dan 500 Kohm. Mikropon impedansi rendah dijual dalam 3 jenis impedansi yaitu 50, 150 dan 600 ohm.

 

1 Onong Uchjyana Effendy, Kamus Komunikasi, Bandung, Mandar Maju, 1989, h 21.

2 Aji W. Pahmi, Pengoperasian Perangkat Dasar Audio dan Radio SMK. Bandung, Amirco, 2002, h 46.

3 Arief Budiman, Kamus Istilah Teknik Elektronika Inggris-Indonesia, Bandung, M2S anggota IKAPI, 1992, h 231.

4 KF Ibrahim, Teknik Digital, Yogyakarta,: Andi Offset, 1991, h 126.

5 Roger L. Tokheim, op cit, h 153.

6 Ian Robertson Sinclair, Panduan Praktis Eletronika Digital, Jakarta, Elex Media Komputindo, 1994, hal. 55.

7 Sutanto, Rangkaian Elektronika Analog Teerpadu, Jakarta, UI Press, 1997, h. 20.

8 Wasito. S, Vademekum Elektronika, Jakarta, Gramedia, 2001, h. 454.

9 Barry Woodland, Elektronika Praktis, Jakarta, Pradnya Paramitha, 2002, h. 74.

10 Daryanto, Pengetahuan Teknik Elektronika, Jakarta, Bina Aksara, 2000, h. 86.

11 Thomas D. Rossing, The Science of Sounds, Philipines, Addison-Wesley Publishing Company, Inc, 1982, h. 358.